You are currently viewing 5 Masalah Koperasi yang Sering Terjadi
koperasi terpercaya dan digital memudahkan masyarakat khususnya milenial

5 Masalah Koperasi yang Sering Terjadi

Sebagai sebuah lembaga keuangan yang ada sejak dulu, koperasi memiliki daya tariknya sendiri bagi nasabahnya. Namun seiring berjalannya waktu, masalah koperasi makin kompleks apalagi saat pandemi melanda perekonomian dunia.

Hingga saat ini peminatnya masih terasa minim ketimbang lembaga keuangan lain. Hal itu berpengaruh banyak pada perkembangan organisasi tersebut demi kemakmuran rakyat dan terciptanya iklim ekonomi nasional yang tangguh.

Padahal niat awal pembuatan koperasi sebagai pondasi keuangan masyarakat amat mulia. Organisasi keuangan tersebut memiliki asas kekeluargaan yang memungkinkan semua anggota mendapat keuntungan bersama, sesuai keterlibatannya.

Lantas sebenarnya apa saja masalah yang ada sebagai salah satu lembaga keuangan? Simak ulasan berikut ini.

Masalah koperasi karena pandangan negatif masyarakat

Sebagai lembaga keuangan yang ada sejak dahulu kala, wajahnya bagi masyarakat terlihat kuno dan akrab dengan masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah, hal ini menjadi masalah besar.

Pandangan tersebut membuat lembaga keuangan ini berkurang peminatnya seiring berjalannya waktu. Apalagi sekarang sudah banyak jenis lembaga keuangan dengan berbagai layanan yang bisa masyarakat nikmati.

Masyarakat memandangnya sebagai satu lembaga keuangan kuno yang masih menerapkan metode lama dalam menjalankan aktifitas. Hal ini membuatnya sulit bersaing dan tidak fleksibel dalam menjalankan operasional.

Padahal dewasa ini telah banyak bermunculan koperasi digital, bahkan kehadirannya makin masif saat pandemi melanda Negeri. Sayangnya fakta itu kurang terlihat masyarakat sehingga pandangan miring tersebut masih melekat hingga sekarang.

Seiring berjalaannya waktu, beberapa koperasi telah berganti wajah dengan menjalankan banyak jenis usaha. Hal ini dapat mengakomodir kebutuhan anggotanya dalam menunjang kehidupan.

Keberagaman ini membuatnya berhasil menarik minat masyarakat kelas menengah ke atas untuk bergabung sebagai anggota. Lagi-lagi minimnya sosialisasi masih menjadi masalah.

SDM jadi masalah perkembangan koperasi

Sebuah lembaga memiliki individu yang khusus bertugas menjalankan operasional, supaya tujuan pembangunannya bisa tercapai. lembaga keuangan ini memiliki pengurusnya sendiri yang telah memiliki amanat dari anggota untuk menjalankan kesejahteraan bersama.

Sayangnya sampai saat ini masih banyak koperasi dengan pengurusnya yang kurang memiliki pemahaman terkait produk keuangan dan penyelesaian masalah. Pengelola lembaga ini umumnya berisi orang-orang berpengaruh di lingkungan sekitar.

Masalah koperasi ini dapat merugikan karena kemampuannya menganalisis perkembangan bisnis dan menjalankan investasi terbilang kurang baik, persepsi kuno pada tubuh lembaga keuangan tersebut tetap melekat. Lebih baik memilih orang dengan kemampuan sesuai, dalam pengelolaannya.

Jangan lupa untuk memasukan anak-anak muda maupun kaum milenial dalam operasionalnya sebagai penarik minat rekan sebayanya menjadi anggota. Selain itu mereka bisa meneruskan tongkat estafet peremajaan sekaligus pengelolaannya di masa depan.

Pesaing dalam memberi akses keuangan bagi rakyat

Seiring berjalannya waktu, akses keuangan bagi masyarakat makin mudah dan beraneka ragam. Berbagai lembaga keuangan dengan jenis usaha berbeda, berlomba menarik minat warga untuk menggunakan jasanya.

Perlombaan ini membuat koperasi dengan segudang masalah yang ada sebelumnya jadi kalah bersaing. Jenis usaha yang ditawarkan dari organisasi keuangan tersebut kepada anggotanya sangat terbatas, dengan keuntungan yang tak terlalu besar.

Modal koperasi yang bersumber dari anggota serta pinjaman pemerintah nyatanya belum cukup meningkatkan layanannya. Gelontoran dana besar yang ada pada lembaga lain membuat pamor kopersasi terus merosot karena mereka mampu memberi akses lebih besar.

Masifnya sosialisasi lembaga lain ketimbang koperasi, makin meminggirkan posisisnya sebagai lembaga keuangan yang hadir untuk mensejahterakan rakyat serta menciptakan tatanan masyarakat adil makmur di Tanah Air.

Keterlibatan anggota minim

Keterlibatan anggota menjadi kunci sukses majunya sebuah koperasi. Sayangnya sampai saat ini, para anggotanya masih kurang memberi dorongan dalam berbagai bentuk demi kemajuan lembaga keuangan tersebut.

Padahal anggota menjadi pilar penting supaya koperasi mampu bersaing. Makin banyak anggota berarti lebih banyak dana untuk pengelolaan serta perkembangannya.

Selain memberi dukungan melalui materi, para anggota bisa menjadi corong penyampai pesan berupa ajakan kepada banyak pihak soal manfaat koperasi. Penilaian positif ini akan menarik banyak pihak turut andil menjadi anggota.

Masalah koperasi paling besar, pendanaan

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, pendanaan koperasi hingga saat ini masih terbatas dari anggota dan pemerintah. Hal ini memicu minimnya anggaran dan keuntungan yang bisa kopersi hadrikan bagi anggotanya.

Walaupun pemerintah melalui berbagai kebijakan dan kemudahan akses pada pendanaan, sayangnya hal ini belum cukup. Gempuran lembaga lain dengan modal sangat besar tak bisa serta merta tersaingi.

Selama pandemi berlangsung bahkan banyak koperasi yang tak bisa bertahan. Hal ini karena para anggotanya mengalami gagal bayar setelah mereka membuat pinjaman.

Kas koperasi yang tak terlalu besar dan pengelolaannya belum profesional, membuat lembaga ini tidak bisa bertahan.

Saat ini masyarakat tak perlu takut, sebab masih banyak koperasi terpercaya dengan pengelolaan profesional. Salah satu lembaga tersebut adalah Koperasi Hartanah.

Koperasi andalan ini mampu memberikan anggotanya keuntungan berlipat dengan sekema keuangan bunga berbunga. Koperasi Hartanah juga telah terdaftar pada Kementerian Koperasi dan UKM RI.

Kunjungi www.hartanahgroup.com atau menghubungi whatsaap Hana untuk informasi kegiatan, promo, dan produk Koperasi Hartanah.

Tinggalkan Balasan